Soroti Tata Kelola Tim Barongsai Sancang Vihara Dharma Loka Garut, Elemen Masyarakat Tekankan Pentingnya Penghormatan Aturan Keagamaan dan Perlindungan Anak

Facebook
WhatsApp
Telegram
X

Peristiwaa yang terjadi di lingkungan Vihara Dharma Loka Garut, yang melibatkan oknum pelatih tim Barongsai Sancang, memicu perhatian luas dari berbagai elemen masyarakat di Kabupaten Garut. Selain mendorong penegakan hukum secara tuntas atas dugaan tindakan asusila terhadap anak di bawah umur, perhatian publik kini juga tertuju pada evaluasi mendalam terhadap tata kelola dan operasional kelompok latihan Barongsai Sancang.

​Secara struktural dan historis, aktivitas latihan kelompok Sancang melekat dan bertempat di kawasan Vihara Dharma Loka Garut, sebuah tempat suci dan peribadatan umat Buddha. Namun, dalam praktiknya, pelaksanaan kegiatan tersebut dinilai tidak mengindahkan prinsip-prinsip dasar tata kelola tempat ibadah serta kepekaan batas-batas keagamaan.

Evaluasi Tata Kelola dan Pembiasan Fungsi Rumah Ibadah

​Sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh agama di Garut menyoroti beberapa poin krusial terkait keberadaan dan pola rekrutmen kelompok latihan Sancang. Pertama, sorotan terkait aktivitas lintas agama tanpa batasan dan pengawasan jelas. Meskipun barongsai saat ini telah diakui sebagai cabang olahraga dan seni budaya, keberadaannya di dalam kompleks peribadatan membuat aktivitas tersebut tetap merepresentasikan identitas keagamaan tertentu. Pelibatan peserta didik dari latar belakang agama lain—termasuk santriwati dari pesantren—tanpa koordinasi transparan dengan pihak lembaga pendidikan asal maupun orang tua, dinilai mengabaikan sensitivitas dan batasan norma keagamaan masing-masing pihak.

Kedua, terjadinya pengabaian prosedur perlindungan anak. Proses rekrutmen dan pelatihan yang berlangsung di bawah naungan kelompok Sancang terbukti minim pengawasan internal. Absennya standar operasional prosedur (SOP) yang ketat terkait hak anak, pemeriksaan latar belakang pengajar, serta transparansi komunikasi dengan orang tua wali murid menjadi celah fatal yang membuka ruang terjadinya tindak kejahatan seksual di lingkungan tempat latihan.

Menanggapi situasi tersebut, rekomendasi yang paling tegas adalah dilakukannya audit dan penataan ulang kelembagaan. Pengurus Vihara Dharma Loka Garut dan pembina Sancang untuk menghentikan sementara atau menata ulang secara menyeluruh sistem operasional pelatihan, rekrutmen, dan pengawasan internal.

Langkah ini diharapkan dapat menjadi momentum pembenahan menyeluruh bagi lembaga kesenian barongsai di Vihara Dharma Loka Garut, guna memastikan keselamatan anak-anak serta menjaga kerukunan dan penghormatan antarumat beragama secara berkelanjutan.

Artikel Lainnya

Atlet Para Renang NPCI Garut Alami Kecelakaan Sepulang Latihan, Shaka Narendra (9) Butuh Operasi Kaki Menjelang PEPARDA

GARUT – Kabar duka menyelimuti keluarga besar National Paralympic Committee

Klarifikasi Insiden Tanjakan Cilimus: Pengemudi Becak Listrik Pingsan Karena Lapar, Bukan Kecelakaan, Penanggung Jawab Kunjungi Rumah

GARUT – Terungkap fakta baru terkait insiden seorang pria yang

Soroti Tata Kelola Tim Barongsai Sancang Vihara Dharma Loka Garut, Elemen Masyarakat Tekankan Pentingnya Penghormatan Aturan Keagamaan dan Perlindungan Anak

Peristiwaa yang terjadi di lingkungan Vihara Dharma Loka Garut, yang

Warga Garut Teriakkan Ketidakadilan: Sertifikat Tanah Almarhum H. Entjeng Kamaludin Disita Pasca-Meninggal Dunia, Kuasa Hukum Mohon Atensi KDM

GARUT – Sebuah kasus sengketa tanah seluas 557 meter persegi

Klub Renang Junior Aquatic Sport (JAS) Garut Cetak Prestasi Gemilang di Semarang Open Championships 2026

SEMARANG – Klub renang Junior Aquatic Sport (JAS) Garut berhasil

Yuda Puja Turnawan Desak Pemkab Alokasikan APBD untuk Bangun Cath Lab dan Tambah Bed RSUD dr. Slamet

GARUT – Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Garut, Yuda Puja

No data was found