Peristiwaa yang terjadi di lingkungan Vihara Dharma Loka Garut, yang melibatkan oknum pelatih tim Barongsai Sancang, memicu perhatian luas dari berbagai elemen masyarakat di Kabupaten Garut. Selain mendorong penegakan hukum secara tuntas atas dugaan tindakan asusila terhadap anak di bawah umur, perhatian publik kini juga tertuju pada evaluasi mendalam terhadap tata kelola dan operasional kelompok latihan Barongsai Sancang.
Secara struktural dan historis, aktivitas latihan kelompok Sancang melekat dan bertempat di kawasan Vihara Dharma Loka Garut, sebuah tempat suci dan peribadatan umat Buddha. Namun, dalam praktiknya, pelaksanaan kegiatan tersebut dinilai tidak mengindahkan prinsip-prinsip dasar tata kelola tempat ibadah serta kepekaan batas-batas keagamaan.
Evaluasi Tata Kelola dan Pembiasan Fungsi Rumah Ibadah
Sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh agama di Garut menyoroti beberapa poin krusial terkait keberadaan dan pola rekrutmen kelompok latihan Sancang. Pertama, sorotan terkait aktivitas lintas agama tanpa batasan dan pengawasan jelas. Meskipun barongsai saat ini telah diakui sebagai cabang olahraga dan seni budaya, keberadaannya di dalam kompleks peribadatan membuat aktivitas tersebut tetap merepresentasikan identitas keagamaan tertentu. Pelibatan peserta didik dari latar belakang agama lain—termasuk santriwati dari pesantren—tanpa koordinasi transparan dengan pihak lembaga pendidikan asal maupun orang tua, dinilai mengabaikan sensitivitas dan batasan norma keagamaan masing-masing pihak.
Kedua, terjadinya pengabaian prosedur perlindungan anak. Proses rekrutmen dan pelatihan yang berlangsung di bawah naungan kelompok Sancang terbukti minim pengawasan internal. Absennya standar operasional prosedur (SOP) yang ketat terkait hak anak, pemeriksaan latar belakang pengajar, serta transparansi komunikasi dengan orang tua wali murid menjadi celah fatal yang membuka ruang terjadinya tindak kejahatan seksual di lingkungan tempat latihan.
Menanggapi situasi tersebut, rekomendasi yang paling tegas adalah dilakukannya audit dan penataan ulang kelembagaan. Pengurus Vihara Dharma Loka Garut dan pembina Sancang untuk menghentikan sementara atau menata ulang secara menyeluruh sistem operasional pelatihan, rekrutmen, dan pengawasan internal.
Langkah ini diharapkan dapat menjadi momentum pembenahan menyeluruh bagi lembaga kesenian barongsai di Vihara Dharma Loka Garut, guna memastikan keselamatan anak-anak serta menjaga kerukunan dan penghormatan antarumat beragama secara berkelanjutan.