GARUT – Pertandingan babak penentuan Piala Soeratin U-15 2026 Zona Priangan Timur antara Tasik Raya dan Banjar Patroman FA di Kabupaten Garut berakhir dengan kericuhan setelah pertandingan. Panitia pelaksana menyebut insiden bermula dari keputusan wasit memberikan penalti kepada Banjar Patroman pada menit-menit akhir pertandingan.
Ketua Panpel Piala Soeratin U-13 dan U-15 Zona Priangan Timur, Firman Fauzi Samsudin, menjelaskan bahwa pertandingan tersebut merupakan laga penentuan untuk memperebutkan tiket ke babak delapan besar.
Pada babak pertama, Tasik Raya sempat unggul 1-0. Namun, memasuki sekitar menit ke-70 terjadi benturan antara striker Banjar Patroman dan penjaga gawang Tasik Raya di dalam area penalti.
Menurut keputusan perangkat pertandingan, benturan tersebut dinilai sebagai pelanggaran sehingga Banjar Patroman mendapatkan hadiah penalti. Eksekusi penalti kemudian mengubah kedudukan menjadi 1-1.
“Ketika skor satu sama, Tasik Raya sebenarnya harus masuk ke babak selanjutnya, tetapi hasil pertandingan membuat Banjar Patroman yang lolos bersama persikotas,” ujar Firman.
Firman menegaskan, pihak panitia tidak dapat mengintervensi keputusan wasit karena keputusan tersebut merupakan kewenangan perangkat pertandingan. Bahkan, panitia telah melakukan klarifikasi kepada wasit terkait insiden tersebut.
“Kami tidak bisa men-judge keputusan wasit itu benar atau tidak. Sudut pandang penonton, panitia dan wasit berbeda. Kami sudah klarifikasi kepada wasit sekitar 30 menit dan menurut wasit mutlak penalti,” katanya.
Situasi kemudian memanas setelah peluit panjang dibunyikan. Sejumlah pemain Tasik Raya disebut mendatangi dan menyerang perangkat pertandingan. Panitia juga mengaku melihat adanya tindakan kekerasan terhadap wasit.
“Setelah peluit akhir, seluruh pemain menyerang perangkat pertandingan. Bahkan saya melihat sendiri ada yang menyundul wasit dengan kepala dan ada videonya,” ungkap Firman.
Kericuhan kemudian meluas ke area sekitar podium panitia. Sejumlah penonton juga disebut masuk ke lapangan dengan memanjat pagar. Panitia berupaya mengamankan penonton serta memisahkan pihak-pihak yang terlibat agar keributan tidak semakin meluas.
Selain itu, Firman menyebut terdapat kerusakan fasilitas di sekitar lapangan akibat tindakan sejumlah pemain. Panitia pun berusaha menghentikan aksi tersebut.
“Pemain Tasik Raya ada yang merusak fasilitas, menendang dan sebagainya. Panitia kemudian meminta agar fasilitas tidak dirusak. Di situ terjadi benturan dengan panitia dan ada panitia yang terkena pukulan dari salah satu official,” ujarnya.
Firman menegaskan bahwa ketidakpuasan terhadap keputusan wasit seharusnya disampaikan melalui mekanisme dan prosedur yang telah ditetapkan dalam kompetisi, bukan melalui tindakan kekerasan maupun perusakan fasilitas.
Ia juga memastikan panitia telah menjalankan tugas pengamanan dan penyelenggaraan pertandingan sesuai prosedur. Delegasi Asprov, match commissioner, perangkat administrasi dan unsur keamanan disebut telah disiapkan sejak sebelum pertandingan.
“Kami sebagai panitia berusaha menyuguhkan kompetisi yang berjalan sesuai aturan. Seluruh komponen pertandingan sudah menjalankan kewajibannya dan berada on the track,” tegasnya.
Sementara itu, Banjar Patroman FA dinyatakan sebagai salah satu tim yang lolos ke babak delapan besar, bersama Persikotas. Pertandingan lanjutan Piala Soeratin Zona Priangan Timur dijadwalkan masih berlangsung hingga beberapa hari ke depan, termasuk babak delapan besar kelompok usia U-13 dan U-15.
Panitia berharap insiden tersebut menjadi bahan evaluasi bersama seluruh pihak yang terlibat dalam kompetisi, terutama agar pertandingan sepak bola usia muda tetap berlangsung sportif, aman dan menjunjung tinggi nilai fair play.