GARUT — Komisi IV DPRD Kabupaten Garut menggelar pertemuan dengan jajaran manajemen RSUD, BPJS Kesehatan, Dinas Sosial, serta sejumlah pihak terkait, Kamis (24/9/2026). Pertemuan tersebut membahas berbagai keluhan masyarakat mengenai pelayanan di RSUD yang sebelumnya ramai menjadi perhatian publik.
Anggota Komisi IV DPRD Garut, Yuda Puja Turnawan, mengatakan, berbagai keluhan yang disampaikan masyarakat, termasuk melalui media sosial dengan jumlah komentar yang mendekati 1.000, menjadi bahan evaluasi untuk mendorong perbaikan pelayanan rumah sakit.
Menurutnya, salah satu keluhan yang cukup banyak disampaikan masyarakat berkaitan dengan keramahan dan sikap sumber daya manusia (SDM) ketika memberikan pelayanan kepada pasien maupun keluarga pasien.
“Apapun yang dikeluhkan masyarakat kita dengarkan. Ini menjadi bagian dari peningkatan pelayanan. Mayoritas keluhan banyak berkaitan dengan SDM yang dianggap kurang ramah,” ujar Yuda.
Ia berharap manajemen RSUD dapat memperkuat program service excellent atau pelayanan prima bagi seluruh SDM rumah sakit. Pelatihan tersebut, kata dia, tidak hanya menyangkut cara berkomunikasi, tetapi juga intonasi, keramahan, bahasa tubuh, hingga cara menangani keluhan pasien (handling complaint).
“Setiap komplain dari pasien maupun keluarga pasien harus benar-benar direspons dengan bahasa yang baik, bahasa tubuh yang nyaman, dan tentu masyarakat harus dipastikan mendapatkan pelayanan secara baik,” katanya.
Yuda juga menyampaikan bahwa dirinya meminta maaf apabila selama ini masih terdapat pelayanan yang dirasakan kurang optimal. Ia menilai kritik masyarakat harus menjadi bahan introspeksi bersama, termasuk bagi DPRD sebagai lembaga yang memiliki fungsi pengawasan.
Selain persoalan pelayanan, Komisi IV juga menyoroti aspek remunerasi bagi SDM RSUD. Yuda berharap sistem remunerasi dapat diterapkan secara berkeadilan sehingga tidak menimbulkan kesenjangan yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kualitas pelayanan.
“Harapan kita remunerasi ini juga berkeadilan. Karena kalau tidak berkeadilan, kita khawatir justru berpengaruh terhadap pelayanan, terutama bagi SDM di tingkat bawah,” ujarnya.
Ia menyebut, pendapatan RSUD pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar Rp216 miliar. Menurutnya, pembahasan mengenai remunerasi perlu dikaji lebih mendalam sesuai ketentuan yang berlaku agar pembagiannya benar-benar dapat mendukung peningkatan kesejahteraan sekaligus kualitas pelayanan.
Di sisi lain, Yuda mengapresiasi langkah manajemen RSUD yang telah melakukan pelatihan terhadap sekitar 200 SDM terkait pelayanan prima. Ia berharap program tersebut dapat terus diperluas karena jumlah SDM yang bekerja di lingkungan RSUD mencapai lebih dari 1.200 orang.
“Kemarin sudah sekitar 200 SDM yang dilatih agar lebih ramah. Di semester kedua ini akan dilatih kembali 200 orang. Tapi jumlah SDM kita lebih dari 1.200, sehingga kita berharap pada awal 2027 pelatihan ini bisa dipercepat,” katanya.
Menurut Yuda, tantangan terbesar bukan hanya memberikan pelatihan teknis, tetapi membangun mindset seluruh SDM rumah sakit agar benar-benar memahami bahwa mereka merupakan pelayan publik.
“Yang paling sulit adalah perubahan mindset. Bagaimana seluruh nakes dan SDM yang ada benar-benar menempatkan kepentingan pasien sebagai prioritas,” tuturnya.
Ia menegaskan, beban kerja manajemen rumah sakit yang berat tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan keluhan masyarakat. Setiap keluhan, baik besar maupun kecil, menurutnya harus didengar dan dicari solusinya.
“Terlepas dari beban kerja direktur dan jajarannya yang sangat berat, semua keluhan warga Kabupaten Garut harus didengarkan dan harus ada solusinya. Yang paling utama adalah bahasa tubuhnya, secara tulus menunjukkan keramahan dan sikap melayani,” pungkasnya.