GARUT — Pimpinan Daerah (PD) ‘Aisyiyah Kabupaten Garut terus memperkuat upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat lanjut usia (lansia) melalui Program Inklusi ‘Aisyiyah. Salah satu langkah yang dilakukan yakni menggelar pelatihan dan pengelolaan layanan lansia terintegrasi yang berlangsung pada 20–21 Oktober 2026 di Kabupaten Garut.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari keberlanjutan Program Inklusi ‘Aisyiyah yang sebelumnya telah dilaksanakan melalui mini lokakarya di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan kegiatan workshop. Program ini kemudian dilanjutkan dengan penguatan layanan di tingkat desa, khususnya Desa Pasanggrahan dan Desa Sukahaji.
Ketua PD ‘Aisyiyah Kabupaten Garut, Eti Nurul Hayati, mengatakan program tersebut secara khusus difokuskan pada pelayanan lansia sebagai respons terhadap meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia.
Menurutnya, perubahan struktur demografi menjadi perhatian penting sehingga diperlukan sistem pelayanan yang terencana, terintegrasi, dan melibatkan berbagai unsur masyarakat.
“Program ini merupakan lanjutan dari kegiatan sebelumnya. Setelah mini lokakarya dan workshop, sekarang kita melanjutkan penguatan program inklusi di tingkat desa, khususnya di Desa Pasanggrahan dan Desa Sukahaji,” ujarnya.
Tiga Kategori Pelayanan Lansia
Eti menjelaskan, layanan lansia terintegrasi dirancang dengan memperhatikan kondisi, kebutuhan, serta tingkat kemandirian setiap lansia.
Dalam pelaksanaannya, terdapat tiga kategori pelayanan yang menjadi perhatian. Pertama, lansia yang masih sehat, mandiri, aktif, dan produktif. Kedua, lansia yang membutuhkan perawatan jangka panjang. Ketiga, kelompok lansia rentan yang memerlukan perhatian dan pendampingan khusus.
Pembagian kategori tersebut diharapkan dapat membantu penyelenggara layanan menentukan bentuk pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing lansia.
Bagi lansia yang masih memiliki kemampuan beraktivitas secara mandiri, program diarahkan untuk mempertahankan kesehatan sekaligus membuka kesempatan agar mereka tetap berperan aktif di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Sementara itu, lansia yang membutuhkan perawatan jangka panjang akan memperoleh perhatian melalui koordinasi dengan keluarga, tenaga kesehatan, dan unsur pelayanan sosial yang tersedia.
“Pelayanan ini harus disesuaikan dengan kondisi lansia. Ada yang masih sehat dan produktif, ada yang membutuhkan perawatan jangka panjang, dan ada juga kelompok rentan yang perlu mendapatkan pendampingan,” jelas Eti.
Libatkan Pemerintah Desa hingga Kader Masyarakat
Untuk mewujudkan layanan yang berkelanjutan, PD ‘Aisyiyah Kabupaten Garut mendorong keterlibatan berbagai pihak, mulai dari keluarga, pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), lembaga kemasyarakatan, puskesmas, posyandu, hingga kader dan organisasi masyarakat.
Kolaborasi tersebut dinilai penting agar pelayanan terhadap lansia tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan terhubung dengan berbagai fasilitas dan program pemerintah yang sudah tersedia.
Melalui sistem layanan terintegrasi, para lansia diharapkan lebih mudah mendapatkan akses pemeriksaan kesehatan berkala, pendampingan sosial, serta pelayanan lain sesuai kebutuhannya.
Selain itu, keterlibatan keluarga menjadi unsur penting karena pendampingan terhadap lansia tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau lembaga tertentu, tetapi juga memerlukan dukungan dari lingkungan terdekat.
Eti menambahkan, pelatihan ini juga menjadi sarana untuk memberikan pemahaman kepada para pemangku kepentingan mengenai program-program pemerintah yang berkaitan dengan kesejahteraan lansia.
Dengan demikian, pengelola layanan di tingkat desa dapat mengetahui mekanisme koordinasi dan rujukan apabila lansia membutuhkan bantuan dari instansi terkait.
Lansia Tetap Produktif Sesuai Kemampuan
Selain pelayanan kesehatan dan sosial, program ini turut mendorong agar lansia yang masih mampu tetap memiliki kesempatan untuk berkegiatan dan menghasilkan sesuatu secara produktif.
Eti menilai, usia lanjut tidak seharusnya menjadi penghalang bagi seseorang untuk terus berkontribusi selama kondisi kesehatan dan kemampuannya memungkinkan.
Di Kabupaten Garut, menurutnya, masih terdapat lansia yang aktif bekerja, menjalankan usaha, maupun mengembangkan keterampilan yang dimiliki, termasuk dalam bidang kerajinan dan pembuatan makanan ringan.
Potensi tersebut dapat dikembangkan melalui pendampingan yang sesuai, dengan tetap memperhatikan kondisi fisik, kesehatan, serta kenyamanan lansia.
“Bagi lansia yang masih sehat dan mandiri, kita ingin mereka tetap aktif dan produktif. Mereka bisa mengembangkan keterampilan yang dimiliki atau melakukan kegiatan yang sesuai dengan kemampuannya,” ungkapnya.
Ia menegaskan, upaya tersebut bukan semata-mata mendorong lansia untuk kembali bekerja, melainkan memberikan ruang agar mereka tetap aktif, sehat, mandiri, dan memiliki kesempatan berpartisipasi dalam kehidupan sosial.
Melalui pelatihan dan pengelolaan layanan lansia terintegrasi ini, PD ‘Aisyiyah Kabupaten Garut berharap terbentuk sistem pelayanan berbasis masyarakat yang mampu menjawab kebutuhan lansia secara lebih menyeluruh.
Penguatan layanan di Desa Pasanggrahan dan Desa Sukahaji diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya memperluas perhatian terhadap kesejahteraan lansia, sekaligus mendorong sinergi antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah dalam menciptakan lingkungan yang ramah bagi penduduk lanjut usia.