Pataka organisasi berpindah tangan di atas panggung pelantikan yang sarat simbol budaya, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Sundawani Kabupaten Garut periode 2025–2029 resmi dikukuhkan. Prosesi itu bukan sekadar seremoni, melainkan penegasan arah baru organisasi di tingkat daerah.
Ketua Umum DPP Sundawani Indonesia, Iwan Gumilang SH, dalam sambutannya menekankan bahwa organisasi tidak boleh berhenti pada simbol dan atribut. Menurutnya, Sundawani harus hadir sebagai kekuatan sosial yang memberi dampak langsung.
“Organisasi ini harus terasa manfaatnya. Tidak cukup besar secara nama, tetapi harus mampu membantu mengurai persoalan sosial, baik di bidang kesehatan, pendidikan, maupun kebudayaan,” ujarnya.
Ia mengingatkan, soliditas internal menjadi kunci. Perbedaan pandangan dalam perjalanan organisasi disebutnya sebagai hal wajar, namun tidak boleh menggerus persatuan.
“Sundawani adalah rumah bersama. Yang dijaga adalah marwah budaya dan kepentingan masyarakat,” kata Iwan.
Momentum pelantikan ditandai dengan pembacaan Ikrar dan Sumpah Jabatan yang dipimpin Ketua DPD Sundawani Kabupaten Garut, Evan Saepul Rohman, SH., M.H. Dalam ikrar tersebut ditegaskan komitmen setia kepada Pancasila dan UUD 1945, menjalankan roda organisasi secara jujur dan amanah, serta menjunjung tinggi harkat, martabat, dan marwah Sunda dengan papagon “Sunda Wani, Wani Sunda”.
Ikrar itu juga memuat komitmen menjaga kerukunan, mempererat silaturahmi, dan mengedepankan gotong royong demi kemaslahatan anggota dan masyarakat luas.
Usai pelantikan, Evan menyampaikan apresiasi atas kehadiran jajaran DPP, para Ketua DPD dari sejumlah daerah, serta seluruh wargi Sundawani. Ia menyebut pelantikan ini sebagai awal kerja nyata, bukan akhir dari proses konsolidasi.
“Alhamdulillah, kegiatan berjalan lancar dan sukses. Kami berterima kasih atas kepercayaan dari Ketua Umum DPP kepada kami untuk memimpin DPD Garut,” ujarnya saat ditemui sejumlah awak media di Gedung Pemuda Kabupaten Garut. Sabtu (7 Februari 2026).
Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat apabila kegiatan tersebut sempat mengganggu kenyamanan, termasuk arus lalu lintas.
“Atas nama pengurus, kami mohon maaf jika ada warga yang merasa terganggu. Ke depan kami akan lebih tertib dan lebih bijak dalam setiap kegiatan,” katanya.
Lebih jauh, Evan memaparkan langkah awal kepengurusan baru. Pertama, melakukan penataan internal dan penertiban terhadap oknum yang mengatasnamakan Sundawani untuk kepentingan pribadi.
“Jika ada yang mengatasnamakan Sundawani untuk melakukan pemerasan atau tindakan merugikan, silakan laporkan kepada kami. Kami tidak akan mentolerir itu,” tegasnya.
DPD Sundawani Garut, kata dia, juga akan menghimpun anggota yang bergerak di sektor-sektor yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, termasuk pekerja parkir dan relawan yang berkaitan dengan akses jaminan kesehatan. Pihaknya mengaku telah membuka komunikasi dengan BPJS dan akan berkoordinasi lebih lanjut dengan pemerintah daerah terkait kemungkinan dukungan subsidi iuran bagi anggota tertentu.
Namun ia menegaskan, perekrutan anggota dilakukan secara selektif. Meski animo pendaftaran cukup besar bahkan sebelum pelantikan, tidak semua pendaftar otomatis diterima.
“Kami ingin memastikan visinya sama: menggali dan melestarikan budaya, serta memberdayakan masyarakat di bidang kesehatan dan pendidikan. Jika di luar itu, kami akan selektif,” ujarnya.
Evan juga mengimbau kepada mereka yang pernah tergabung sejak 2012 untuk melakukan pendaftaran ulang sebagai bagian dari penataan organisasi.
Bagi Sundawani Garut, pelantikan ini bukan sekadar formalitas struktural. Ia menjadi titik tolak konsolidasi, sekaligus ujian apakah organisasi berbasis budaya itu mampu menjelma menjadi kekuatan sosial yang relevan di tengah masyarakat.***










































