Kabupaten Garut bersiap menjadi tuan rumah ajang bertaraf dunia melalui penyelenggaraan Garut International Kite Festival yang direncanakan berlangsung pada Agustus 2026. Event ini merupakan inisiasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat bekerja sama dengan Gerakan Desa Emas dan Graha 165, serta mendapat dukungan penuh dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Garut.
Festival layang-layang internasional tersebut akan digelar di Agrowisata Tepas Papandayan yang berlokasi di Desa Karamatwangi, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut. Lokasi ini dipilih berdasarkan rekomendasi asosiasi pelayang internasional yang menilai kawasan tersebut memiliki potensi alam dan karakter angin yang sangat ideal untuk event layang-layang berskala global.
Ketua Gerakan Desa Emas, Aris Mukti, menyampaikan bahwa pihaknya memiliki visi besar menjadikan Garut sebagai tuan rumah festival kelas dunia. Menurutnya, semangat “Garut Hebat” harus ditingkatkan menjadi Garut yang mampu bersaing di tingkat global.
“Kita ingin Garut bukan hanya hebat secara nasional, tapi juga dikenal dunia. Tentu untuk sampai ke sana perlu dukungan semua pihak, mulai dari bupati, wakil bupati, OPD, hingga masyarakat. Kalau semua gotong royong dan satu visi, insya Allah tidak ada yang menghalangi,” ujarnya.
Aris yang juga menjabat Presiden Indonesia Summoned Global League chapter Indonesia menjelaskan, jejaring internasional telah siap mendukung pelaksanaan festival ini. Sejumlah asosiasi pelayang dari berbagai negara, termasuk dari Johor, Malaysia, telah menyatakan komitmennya untuk berkolaborasi di Garut.
Ia menuturkan, pada festival di Johor yang dihadiri perwakilan dari 56 negara dengan total pengunjung mencapai 650 ribu orang, kepala desa dari Garut bahkan diperkenalkan sebagai calon tuan rumah berikutnya. “Mereka melihat potensi Garut luar biasa. Bahkan menyebutnya seperti surga untuk event layang-layang,” katanya.
Peserta yang direncanakan hadir berasal dari berbagai negara, di antaranya Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, China, Jepang, dan Korea.
Secara ekonomi, festival ini diproyeksikan memberikan dampak signifikan. Dengan asumsi belanja minimal wisatawan sebesar Rp1 juta per hari, perputaran uang yang terjadi diperkirakan mencapai angka fantastis. Namun demikian, Aris mengakui masih ada tantangan besar dari sisi infrastruktur.
“Secara jaringan kami mampu mendatangkan hingga 650 ribu pengunjung dalam lima hari. Tapi saat ini kapasitas prasarana kita mungkin baru mampu menampung sekitar 15 ribu orang. Ini yang harus menjadi kerja bersama, tidak hanya desa dan kabupaten, tapi juga provinsi,” ungkapnya.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut, Beni Yoga, menyambut baik kepercayaan yang diberikan kepada Garut sebagai satu-satunya lokasi di Jawa Barat untuk event tersebut.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan ini. Tentu ini kebanggaan bagi Garut. Kami sudah berkoordinasi dan melaporkan kepada Bupati terkait persiapan, terutama infrastruktur dan pendukung lainnya. Mudah-mudahan secara bertahap dapat kita maksimalkan agar tamu merasa aman dan nyaman,” ujarnya.
Ia berharap festival ini tidak hanya sukses secara penyelenggaraan, tetapi juga berkelanjutan dan mampu mendorong kunjungan wisatawan kembali ke Garut di masa mendatang.
Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Garut, H. Ato Hermanto, menyatakan kesiapan pihaknya untuk mengonsolidasikan seluruh pengusaha hotel dan restoran.
“Ini momen strategis dan harus dimanfaatkan oleh masyarakat wisata Garut, khususnya hotel, restoran, dan pelaku UMKM. Kami siap mendukung dan mengoordinasikan agar event ini berjalan sukses dan membawa nama Garut mendunia,” katanya.
Festival ini direncanakan digelar pada Agustus 2026, bertepatan dengan musim angin yang mendukung serta momentum peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Panitia berharap, melalui Garut International Kite Festival, lahir kebangkitan ekonomi daerah sekaligus penguatan citra Garut sebagai destinasi wisata unggulan berkelas dunia.***










































